Cerpen Menur
Sendirian. Merenung. Pergi. Sendiri. Cuci mata. Cari udara segar. Asyik kali ya! Jalan-jalan sore naik bronpit di belakang kampus UNS. Rutinitas sore, banyak anak muda berpasangan di Hik yang bejajar di sepanjang trotoar.
Dibawah kapal belakang STSI bermandikan remang-remang lampu kota disudut-sudut jalan. Nampak pemandangan anak muda berpasang-pasangan. Kuperhatikan di sekelilingku sekilas mataku menangkap hik baru bertuliskan Hik PAKAGULA. Kupertajam lagi pandanganku pada hik itu. Benar adanya, Hik PAKAGULA.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
GERHANA DI SEPASANG MATA IBU
Cerpen Andri Saptono
Mungkin karena hari lahir ibu yang bertepatan dengan hari proklamasi kemerdekaan yang membuat dirinya istimewa? Ibu lahir satu menit setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan Soekarno. Tentang keistimewaan ibuku, selain hari ulang tahunnya yang selalu ia rayakan bersamaan hari kemerdekaan negrinya ini, ibuku sejak kecil mempunyai bakat yang bisa dikatakan luar biasa bagi warga desa kami. Setidaknya begitulah pengakuan beberapa warga yang telah beberapa kali datang kepada ibu –
SEWAJARNYA AKU BERCERITA
Cerpen Didik Wahyu Kurniawan
Sewajarnya aku bercerita. Dia datang ketika itu membawa beberapa tumpuk kertas dan beberapa lembar uang seratus ribu. Dia bilang kalau dia sudah sukses nanti dia akan datang menemuiku dan memenuhi janjinya kepadaku. Tidak lama aku menunggu kedatangannya. Sebulan sebelum itu dia menelfonku. Katanya proyek yang diceritakan kepadaku sudah sukses. Sesingkat itu pikirku.
Langganan:
Postingan (Atom)
